Senin, 11 Mei 2015

12 Juli 1947 hingga Bapak Koperasi


Judul diatas mengingatkan kita tentang bagaimana koperasi itu lahir, tumbuh, berkembang hingga saat ini. Sejarah ini lahir karena peran serta dari masyarakat Indonesia yang menginginkan bahwa koperasi benar-benar diakui ditengah masyarakat ide dasar pemikiran tersebut tidak terlepas dari peran serta tokoh yang diakui sebagai bapak koperasi Indonesia yaitu Moh. Hatta.

Walaupun jika dirunut jauh kebelakang sebenarnya Bung Hatta bukanlah yang pertama menghembuskan nafas semangat berkoperasi melainkan ada tokoh lainnya yaitu R. Arya Wiriatmaja asal Purwokerto saya biasanya senang menyebutnya dengan Portorico biar keren gitu... Namun Bung Hatta menyempurnakannya dengan menuangkan ide hasil pemikirannya dalam UUD 1945 pasal 33, pidato-pidatonya terutama ketika menyambut hari koperasi tanggal 12 Juli 1951 melalui radio, dan tidak hanya itu beliau juga menuangkannya dalam buku salah satunya adalah yang berjudul “Membangun Koperasi dan Koperasi Membangun” (1971).

Pasca kemerdekaan 1945 koperasi sudah mulai menjamur, hingga pada akhirnya pada tanggal 12 Juli 1947 mereka yang tergabung dalam koperasi-koperasi dari berbagai daerah mengadakan kongres koperasi di Tasikmalaya dan ini merupakan kongres yang pertama. Dalam kongres tersebut ditetapkan berdirinya Sentral Organisasi Koperasi (SOKRI).

Bukan tanpa sebab lho mengapa kongres yang pertama didirikan di Tasikmalaya. Ini karena menjelang Kongres Koperasi I yang diadakan pada tanggal 11-14 Juli 1942. Para pimpinan koperasi di Jawa Barat memutuskan untuk mengirim utusan ke Daerah Istimewah Yogyakarta yang pada waktu itu sebagai ibu kota Negara, dengan maksud untuk menemui tokoh yang dihormati dan juga seorang ahli ekonomi serta penganjur Gerakan Koperasi yaitu Bung Hatta.

Berdasarkan literature yang saya baca, utusan yang dikirim terdiri atas Niti Soemantri, Kastura, Much, Muchtar dan Kiyai Lukman Hakim[1]. Selain menemui Moh. Hatta mereka juga menemui R.S. Soeria Atmadja (Kepala Jawatan Koperasi Pusat) yang berada di Magelang, kemudian mereka juga menemui R.M Margono Djojohadikusumo (Periden Direktur Bank Indonesia). 

Dengan menemui Presdir BI, para utusan sepakat bahwa sebelum koperasi itu bisa menyelenggarakan kegiatan usaha yang mandiri maka Bi akan membantu dengan mengadakan “Kamar Koperasi”, tugasnya adalah memberikan bantuan secara kredit bagi gerakan koperasi di seluruh Indonesia. Hingga pada akhirnya, atas persiapan tersebut Koperasi Pusat Priangan mengambil prakarsa untuk menyelenggarakan kongres koperasi pertama di Tasikmalaya. Pertimbangannya adalah faktor keamanan, dan pada waktu itu Tasikmalaya adalah Ibu Kota dari Jawa Barat sementara. Karena dibeberapa daerah Indonesia waktu itu masih rajin perang melawan Belanda. Bahkan setelah beberapa hari pelaksanaan kongres, Tasikmalaya juga tidak luput dari hantaman bom Belanda.

Pabrik tempat pelaksanaan Kongres-I koleksi A.Basrah Enie
Karena pada waktu itu Negara kita masih belum pulih sepenuhnya dan masih diliputi peperangan sehingga kongres diadakan disuatu pabrik tenun disana pula para peserta kongres menginap. Pabrik ini tidak hanya sebagai pabrik tenun yang mampu memproduksi 80 kodi setiap bulan melainkan juga sebagai pabrik beras perintis dengan kapasitas produksi 10 ton beras (entah perhari atau perbulan tidak disebutkan dengan jelas). Gedung ini adalah milik dari Koperasi Pusat Kabupaten Tasikmalaya yang didirikan sejak tahun 1950 di Jl. Ciamis No. 40. Pada waktu itu peserta yang hadir untuk mengikuti kongres mencapai 500 peserta utusan dari berbagai daerah seperti Sumatera, Jawa-Madura, Kalimantan, dan Sulawesi. Jika anda ingin tahu bagaimana sejarah dari pabrik tenun ini, mungkin anda bisa merujuk ke link http://bit.ly/1FfAjD9.

Lama setelah kongres pertama berlangsung, enam tahun kemudian diadakanlah kongres yang ke-II yaitu pada tahun 1953 di Bandung pada tanggal 15-17 Juli. Organisasi utama yang menaungi koperasi dulu yang bernama SOKRI dirubah pada kongres kedua ini menjadi DEKOPIN. Pada kongres itu pula hari koperasi disepakati pada tanggal 12 Juli yang kita peringati hingga sekarang.

Setelah enam tahun berlalu rupanya iklim sosial dan politik bangsa ini memberikan ruang gerak yang bebas bagi koperasi untuk bisa berkembang pesat. Kemudian sehubungan dengan hal itu, Bung Hatta berpesan kepada anggota koperasi untuk bisa seia-sekata dalam praktik sehari-hari antara koperasi yang satu dan yang lainnya. Nah untuk mewujudkannya maka diperlukanlah wadah atau sebuah organisasi, karena situasi pasca kongres I Indonesia masih kacau sehingga SOKRI yang merupakan hasil dari kongres ke-I tidak bisa berfungsi. Karena SOKRI tidak berfungsi sehingga wadah organisasi yang mampu memayungi koperasi agar bisa memiliki cara pandang yang sama tidak ada.

Pada tanggal 15-17 Juli 1953 Kongres Besar Koperasi Seluruh Indonesia ke-II di gelar di Bandung. Peserta yang menghadiri kongres ini tidak sebanyak pada waktu kongres I, pada kongres ke-II sejumlah 206 namun mereka adalah utusan 83 Pusat-pusat koperasi dari berbagai wilayah yang tersebar di Indonesia yaitu daru Sumatera Utara, Sumatera Tengah, Sunda Kecil, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan, dan Sulawesi. Yang memimpin kongres ini adalah Niti Soemantri.

Kongres ke-II dihadiri oleh berbagai tokoh penting di Indonesia, mereka tidak hanya hadir juga memberikan prasaran atau pidato dalam kongres tersebut. Tokoh-tokoh tersebut adalah Pro. Dr. Sumitro Djojohadikusumo (menteri Perekonomian) dengan judul “Fungsi Koperasi dalam Proses Pengembangan Ekonomi”, Iskandar Tejasukmana (Menteri Perburuhan) dengan judul “Perumahan Rakyat”, R. Moh. Ambiyah Hadiwinoto (GKBI) dengan judul “Undang-undang Koperasi”, Roesli Raim (Kepala Jawatan Koperasi Pusat) dengan judul “Pendidikan dan Penerangan Koperasi”, R.S Soeria Atmadja (Kepala Direktorat Perekonomian Rakyat) dengan judul “Perluasan Tugas Gerakan Koperasi Indonesia”.

Penyematan Lencana Emas dari Niti Soemantri kepada Bung Hatta
Pada Kongres yang ke-II diperoleh beberapa keputusan diantaranya yaitu pengaktifan kembali organisasi koperasi namun berganti nama yang awalnya SOKRI menjadi DEKOPIN yang bertempat di Bandung. Kemudian pengankatan Bung Hatta sebagai Bapak Koperasi. Beliau diangkat karena peran sertanya yang besar dalam membantu koperasi juga pada peringatan hari koperasi pada tanggal 12 Juli 1951, beliau memberikan mengucapkan pidato melalui radio untuk menyambut Hari Koperasi Indonesia. Karena peran sertanya yang besar itulah pada tanggal 17 Juli 1953 pada kongres koperasi ke-II beliau diangkat menjadi Bapak Koperasi Indonesia.

Itulah penjelasan singkat tentang sejarah tanggal 12 Juli 1947 bagi koperasi kita. Semoga bermanfaat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar